Jakarta, CNN Indonesia —
Pemerintah Kuba melaporkan 32 warga negaranya tewas dalam serangan Amerika Serikat ke Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari.
Mereka merupakan personel angkatan bersenjata serta agen-agen intelijen yang Tengah berada di Venezuela untuk melakukan suatu misi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sesuai dengan tanggung jawab mereka terkait keamanan dan Lini belakang, warga negara kita Pernah terjadi melaksanakan tugas mereka dengan bermartabat dan heroik, dan gugur, setelah perlawanan sengit dalam pertempuran langsung melawan para Striker maupun karena pemboman di fasilitas-fasilitas,” demikian pernyataan pemerintah Kuba, seperti dikutip Reuters.
Kuba Pernah terjadi menjadi sekutu dekat rezim Pemimpin Negara Venezuela Nicolas Maduro sejak Maduro menjabat. Pasukan keamanan Kuba Menyajikan pengamanan bagi Maduro, termasuk Menyajikan pasukan militer dan kepolisian selama bertahun-tahun.
Tidak jelas berapa banyak pasukan keamanan Kuba yang berada di Venezuela ketika serangan AS terjadi. Menurut kantor berita Kuba, pasukan keamanan ini hadir atas permintaan Maduro.
Pemimpin Negara AS Donald Trump pada Minggu (4/1) Bahkan menyatakan Sebanyaknya warga Kuba tewas dalam operasi militer Washington ke Venezuela.
“Banyak warga Kuba tewas kemarin,” kata Trump kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One.
“Ada banyak yang tewas di pihak lain. Tapi tidak ada satu pun di pihak kita,” ucapnya.
AS melancarkan serangan udara ke Venezuela pada Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 waktu setempat. Serangan itu dilancarkan di ibu kota Caracas serta berbagai negara bagian, termasuk Miranda, Aragua, dan La Guaira.
Pemimpin Negara Maduro dan istrinya, Cilia Flores, ditangkap dalam operasi tersebut. Keduanya langsung diterbangkan ke New York, AS, untuk dibawa ke persidangan Maduro atas tuduhan Narkotika dan Kekerasan Politik.
Aksi AS ini Pernah terjadi dikecam keras berbagai negara dunia karena melanggar hukum internasional.
(blq/bac)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA









