Jakarta, CNN Indonesia —
Cucu pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini Bila rezim teokrasi di negaranya runtuh justru rakyat Iran Nanti akan menderita.
Pernyataan itu diutarakan Hassan Khomeini kala Iran dihadapkan Unjuk Rasa besar-besaran menentang pemerintah Republik Islam Iran Pada saat ini Bahkan yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei lantaran Ketidakstabilan Ekonomi yang kian memburuk. Aksi Ketidaksetujuan berdarah sejak akhir 2025 ini Sudah menewaskan lebih dari 600 orang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Sehari setelah Republik Islam runtuh, tidak Nanti akan ada keamanan, kebebasan, maupun kesejahteraan di negara ini,” kata Khomeini dalam wawancara dengan media pemerintah Iran, IRIB, yang disiarkan Selasa (13/1).
Khomeini mengklaim keresahan yang terjadi didorong oleh “Kekerasan Politik” bergaya ISIS, seraya menyatakan “peristiwa sejak Kamis malam dan seterusnya sama sekali tidak ada kaitannya dengan aksi Ketidaksetujuan.”
“Kami menyaksikan tingkat Tindak Kekerasan yang tidak sejalan dengan sensitivitas masyarakat Iran,” ujarnya, seperti dikutip media pemerintah seperti dilansir CNN.
“Itu Merupakan Tindak Kekerasan ala ISIS. Menurut saya, di balik layar, sebagian besar dipengaruhi oleh arus ISIS yang masuk dari negara-negara tetangga.”
Unjuk Rasa yang pecah sejak 28 Desember 2025 lalu semakin meluas ke seluruh negeri Sampai sekarang pemerintah Iran memblokir internet selama hampir sepekan terakhir demi membungkam unjuk rasa.
Selama Unjuk Rasa berlangsung Tindak Kekerasan aparat dilaporkan terjadi Sampai sekarang Sebanyaknya organisasi pemerhati HAM Iran memaparkan korban tewas bisa lebih dari 600 orang.
Khomeini merupakan cucu Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh yang memimpin Revolusi Islam pada 1979 menggulingkan kerajaan Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Revolusi Islam 1979 itu membuka jalan bagi pemerintahan ulama konservatif di Iran yang bercokol Sampai sekarang hari ini.
Sementara itu, Pemimpin Tertinggi Iran Pada saat ini Bahkan Merupakan Ayatollah Ali Khamenei, yang berkuasa sejak 1989 setelah wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Masih belum jelas siapa yang Nanti akan menjadi penerus kepemimpinan Iran ke depan.
Sekalipun demikian, para analis menyebut Sebanyaknya nama potensial, termasuk Mojtaba Khamenei, putra Khamenei, serta Hassan Khomeini sendiri. Keduanya sama-sama merupakan ulama.
(rds)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











