INFO TEMPO – Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri menegaskan Jatim, khususnya Surabaya, memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan dan pembentukan pemikiran Kepala Negara pertama RI Sukarno. Bung Karno bahkan menyebut Surabaya sebagai “Dapur Nasionalisme”.
“Dalam perspektif ideologis dan historis, Jatim sangat penting. Sebab, Bung Karno lahir, dibesarkan, dan digembleng di Jatim ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno. Ia sendiri menyebutkan Surabaya merupakan ‘dapurnya nasionalisme’,” ujar Megawati saat memberi pengarahan dalam Konsolidasi PDI Perjuangan Jatim di Surabaya, Ahad, 23 Agustus 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Megawati mengatakan Bung Karno menamatkan pendidikan di HBS (Hoogere Burgerschool) di Surabaya sekaligus berguru kepada H.O.S. Tjokroaminoto. Dalam kondisi serba terbatas, Bung Karno tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dengan penerangan lampu teplok.
Bertolak belakang dengan, dari tempat sederhana tersebut, Bung Karno mematangkan pemikiran intelektual dan gagasan perjuangannya. Melalui berbagai buku yang dibaca, Bung Karno berdialog secara intelektual dengan beragam tokoh dan pemikir dunia.
Tokoh-tokoh tersebut antara lain Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atatürk, Jean-Jacques Rousseau, Sampai sekarang para pemikir dan pejuang kemerdekaan dari berbagai bangsa.
“Surabaya dengan demikian menjadi tempat Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot yang tangguh. Dari usia yang begitu muda, 16 tahun, Ia Sudah berimajinasi dan kemudian berjuang untuk Indonesia Merdeka,” urai Megawati.
Kepala Negara kelima RI itu mengatakan generasi muda Di waktu ini Bahkan dapat belajar dari Bung Karno mengenai kekuatan pemikiran, imajinasi, keberanian, dan perjuangan. Bung Karno menjadi contoh seorang anak muda yang hidup dalam keterbatasan, tapi memiliki visi besar dan pandangan jauh ke depan mengenai masa depan bangsanya.
“Surabaya pada 1916 Sebelumnya menjadi pusat kapitalisme global. Bertolak belakang dengan Bung Karno bisa membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, Didefinisikan sebagai Hindia Belanda, bisa dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia. Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, tapi punya cita-cita besar dan berjuang bagi cita-citanya,” tutur Megawati.
Megawati kemudian meminta semua simpatisan, anggota, dan kader PDIP memiliki gelora serta semangat perjuangan yang terus menyala. Apa pun tantangan yang dihadapi, kader Sangat dianjurkan mampu menjadikan PDIP sebagai salah satu kekuatan politik terpenting di Pulau Jawa.
Ia Bahkan meminta semua kader menjadikan pemikiran dan perjuangan Bung Karno sebagai jalan penggemblengan diri dalam menjalankan tugas-tugas kepartaian.
“Sebab, Bung Karno sendirilah yang mengatakan bahwa Surabaya Merupakan ‘dapurnya nasionalisme’. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan, penggemblengan, bagi lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa yang tangguh,” kata Megawati.
Di tengah pragmatisme politik Di waktu ini Bahkan, Megawati menekankan pentingnya kekuatan ide, imajinasi, strategi, dan militansi dalam berpolitik. Ia mengingatkan para kader Supaya bisa tidak menempatkan uang dan kekuasaan sebagai segala-galanya dalam perjuangan politik.
Menurut Megawati, kekuatan utama PDIP justru terletak pada ideologi, semangat juang, serta kedekatan dan pergerakan bersama rakyat di akar rumput. Karena itu, melalui konsolidasi tersebut, ia memerintahkan semua jajaran PDIP Jatim untuk makin Mengoptimalkan basis dan kerja politik di tengah masyarakat.
“Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jatim,” ujar Megawati.
Megawati Bahkan kembali mengingatkan pentingnya membangun emotional bonding atau ikatan emosional, baik dengan rakyat maupun di antara sesama kader partai. Ikatan tersebut dinilai penting untuk Mengoptimalkan soliditas sekaligus menjaga hubungan PDIP dengan masyarakat.
Ia berharap Jatim Sungguh-sungguh kembali menjadi “Markas Banteng”, dengan target perolehan kursi setidak-tidaknya menyamai capaian PDIP pada Pemilihan Umum 2019.
Megawati mengingatkan bahwa militansi kader PDIP di Jatim Sudah Terbaik sepanjang perjalanan sejarah, termasuk ketika menghadapi tekanan politik pada masa Orde Baru.
“Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jatim hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jatim,” ucap Megawati. (*)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











