Produksi Batubara Dipangkas 190 Juta Ton, Efisiensi Tambang Sekarang Ditentukan di Ruang Mesin

loading…

Efisiensi di alat berat berdampak besar terhadap operasional tambang. Foto: ist

JAKARTA – Volume turun 24%, biaya per jam operasi naik, tambang mencari penghematan dari komponen yang selama ini dianggap remeh.

Sektor pertambangan Indonesia menutup Kuartal II 2026 dengan angka merah. Badan Pusat Statistik mencatat PDB pertambangan dan penggalian terkontraksi 1,64% secara tahunan. Itu kontraksi kedua beruntun, setelah Kuartal I Bahkan negatif.

Tekanan datang dari dua arah. Dari sisi volume, pemerintah memangkas target produksi batubara nasional menjadi sekitar 600 juta ton pada 2026.

Realisasi 2025 tercatat 790 juta ton. Selisihnya 190 juta ton, atau sekitar 24%. Pemangkasan dilakukan melalui revisi RKAB, dengan alasan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, stabilitas harga Barang Dagangan, serta keberlanjutan cadangan energi nasional.

Dari sisi biaya, mandatori B50 mulai berjalan. Kementerian ESDM mencatat performa mesin alat berat tetap stabil tanpa gangguan signifikan. Bertolak belakang dengan konsumsi bahan bakar naik sekitar 3,12% dibandingkan B40. Angka itu dinilai masih wajar secara operasional, tetapi tetap menambah beban.

Produksi turun, biaya per jam operasi naik. Maka penghematan dicari di tempat yang selama ini dianggap rutinitas: pelumasan dan perawatan preventif.

ExxonMobil Lubricants Indonesia (EMLI) membawa pendekatan itu ke Mining Indonesia 2026 di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran, 9–12 September 2026. Boothnya di Hall B3.

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA