AS Gelontorkan Rp48 Triliun untuk Radar Sentinel A4, Hadapi Ancaman Rudal dan Pesawat China


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Amerika Serikat menggelontorkan hampir 3 miliar Mata Uang Amerika AS atau sekitar Rp48 triliun untuk Mengoptimalkan Lini belakang udaranya di tengah meningkatnya kemampuan rudal, drone, dan pesawat tempur China. Dana tersebut diberikan kepada Lockheed Martin untuk memproduksi radar Lini belakang udara generasi terbaru Sentinel A4, yang dirancang menghadapi ancaman udara modern yang semakin kompleks.

Menurut pengumuman kontrak Departemen Lini belakang Amerika Serikat pada 30 Juni 2026, Lockheed Martin memperoleh kontrak senilai 2,998 miliar Mata Uang Amerika AS dalam skema harga tetap dan biaya tetap untuk memproduksi radar Sentinel A4 beserta layanan rekayasa teknisnya. Kontrak tersebut ditargetkan rampung pada Juni 2031.

Dalam pengumuman itu disebutkan bahwa Tempat pekerjaan dan besaran anggaran untuk setiap pesanan Berencana ditetapkan secara bertahap sesuai kebutuhan operasional Angkatan Darat AS.

Sentinel A4 merupakan radar Lini belakang udara generasi baru yang Berencana menggantikan radar AN/MPQ-64 Sentinel A3. Sistem ini dikembangkan menggunakan teknologi Active Electronically Scanned Array (AESA) berbasis gallium nitride (GaN) yang memiliki sensitivitas lebih tinggi, jangkauan deteksi lebih luas, serta kemampuan memproses banyak sasaran secara Pada waktu yang sama dibandingkan generasi sebelumnya.

Radar tersebut mampu melakukan pengawasan 360 derajat dan secara simultan mendeteksi, melacak, serta mengidentifikasi berbagai ancaman udara, mulai dari rudal jelajah, pesawat tempur, helikopter, drone, roket, peluru artileri, Sampai saat ini mortir. Sentinel A4 Bahkan dirancang bekerja sebagai bagian dari Integrated Battle Command System (IBCS) sehingga dapat berbagi data secara real time dengan sistem Lini belakang udara lain milik Angkatan Darat Amerika Serikat.

Menurut Lockheed Martin, penggunaan teknologi AESA digital berbasis GaN Mengoptimalkan kemampuan radar dalam mendeteksi sasaran yang memiliki jejak radar kecil sekaligus Mengoptimalkan ketahanannya terhadap gangguan peperangan elektronik. Dibandingkan Sentinel A3, radar baru ini memiliki peningkatan jangkauan deteksi dan sensitivitas yang signifikan sehingga mampu menghadapi ancaman udara yang berkembang pesat.

Merespons Modernisasi Militer China

Kontrak hampir Rp48 triliun tersebut muncul ketika Washington terus mempercepat modernisasi sistem Lini belakang udaranya di tengah meningkatnya kemampuan militer China. Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing mengembangkan berbagai sistem persenjataan baru, mulai dari rudal hipersonik, rudal jelajah jarak jauh, drone tempur, Sampai saat ini pesawat tempur siluman seperti J-20 Mighty Dragon dan J-35.

Perkembangan tersebut mendorong Amerika Serikat Mengoptimalkan kemampuan deteksi dini terhadap berbagai ancaman udara yang semakin beragam. Dalam doktrin Lini belakang modern, radar berperan sebagai sensor utama yang Menyediakan peringatan dini sekaligus data penargetan bagi sistem Lini belakang udara seperti Patriot, Indirect Fire Protection Capability (IFPC), maupun jaringan Lini belakang rudal lainnya.

Selain Mengoptimalkan kemampuan menghadapi pesawat tempur dan rudal jelajah, Sentinel A4 Bahkan dirancang untuk mengatasi pola serangan modern yang menggabungkan peluncuran drone, roket, artileri, dan mortir secara Pada waktu yang sama. Kemampuan melacak banyak sasaran dalam waktu yang sama menjadi salah satu keunggulan utama radar ini dibandingkan sistem generasi sebelumnya.

Modernisasi Sentinel A4 menjadi bagian dari upaya Washington mempertahankan keunggulan teknologi militernya di tengah Laga strategis yang semakin ketat dengan China, terutama di kawasan Indo-Pasifik. Meski demikian, Sampai saat ini Pada saat ini Departemen Lini belakang AS maupun Lockheed Martin tidak menyatakan bahwa Sentinel A4 dikembangkan secara khusus untuk mendeteksi pesawat siluman China, melainkan sebagai radar Lini belakang udara generasi baru yang mampu menghadapi spektrum ancaman udara modern yang terus berkembang.


Loading…


Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version