Jakarta, CNN Indonesia —
Fluktuasi Harga Iran memicu kemarahan masyarakat dengan gelombang demosntrasi sejak Desember 2025. Warga menjerit lantaran harga-harga, termasuk pangan, naik Sampai sekarang 70 persen.
Yang mendorong banyak orang turun ke jalan hari ini bukan sekadar kegelisahan, tetapi kondisi ‘kantong kosong’, menungguk tagihan dan kelangkaan barang-barang.
Hukuman internasional yang ketat, diperparah oleh salah kelola domestik, membuat perekonomian Iran berada dalam kondisi rapuh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tekanan ekonomi ini menggerus kepercayaan publik dan mempertinggi rasa ketidakpuasan, terutama di kalangan pekerja dan kelas menengah bawah, yang Pada saat ini kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bahkan, Grand Bazaar Teheran yang merupakan simbol dukungan konservatif kepada pemerintah, Bahkan ikutan Ketidaksetujuan dengan menutup toko. Bloomberg melaporkan aksi Ketidaksetujuan dengan menutup toko berlangsung nyaris dua minggu.
Kepala geoekonomi Timur Tengah untuk Bloomberg Economics, Dina Esfandiary menilai gelombang Ketidaksetujuan kali ini bisa berujung menggulingkan pemerintahan. Sebab, ada dua dinamika yang tampak berbeda dalam Ketidaksetujuan Hari Ini dengan aksi sebelumnya.
Perbedaan pertama, kondisi ekonomi yang semakin memburuk setelah bertahun-tahun dijatuhi sanski oleh negara Barat.
Mata uang Rial Iran turun sekitar 40 persen yang mendorong Fluktuasi Harga harga pangan Sampai sekarang 70 persen dari tahun ke tahun. Rial Iran melemah dengan Mudah di tengah pengetatan Hukuman dan penurunan harga minyak.
Ini diperparah dengan kekeringan bertahun-tahun dan pengelolaan pasokan air yang buruk sehingga mengganggu produksi pangan lokal. Ditambah lagi dengan pemadaman listrik yang berkepanjangan dan lemahnya pasar tenaga kerja.
Perbedaan kedua Merupakan kedudukan Politik Global Iran Pernah terjadi menurun drastis. Penggulingan Kepala Negara Suriah Bashar al Assad tahun lalu Pernah terjadi mengakhiri aliansi yang sangat penting bagi pengaruh Teheran di kawasan tersebut.
Iran Bahkan menyaksikan sekutunya, Hizbullah dan Hamas, dibom dan dilemahkan di Lebanon dan Gaza.
Esfandiary melihat pemerintah Iran Hari Ini menghadapi kemungkinan konflik yang nyata. Sekalipun demikian, ia melihat kemungkinan kecil terjadinya keruntuhan total pemerintah atau reformasi.
Ia menilai sistem tetap ada, tetapi dengan pemimpin yang berbeda, atau kudeta yang dipimpin oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Faktor tak terduga lainnya Merupakan potensi kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang Pada saat ini berusia 86 tahun. Kematian Khamenei berpeluang mengantarkan suksesi pemimpin tertinggi kedua sejak kepergian Shah.
“Perbedaannya kali ini dibandingkan dengan sebelumnya Merupakan IRGC jauh lebih dominan. Tidak ada susunan skenario di mana pemimpin tertinggi berikutnya tidak bekerja sama erat dengan IRGC,” kata Esfandiary.
Menurutnya, semua opsi ini tampak tidak terlalu menjanjikan bagi para pendukung demokrasi, tetapi masih bisa melibatkan pendekatan dengan Washington. Manakala benar, momentum tersebut Akan segera menandai evolusi yang Unggul dalam sejarah kompleks hubungan AS-Iran.
(pta)
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











