Heart Rate Vs Ego Sama-sama Tinggi? Harus Tahu ‘Red Flags’ Jantung Ingin Kolaps

Jakarta –

Gerakan lari Saat ini Bahkan Pernah menjadi bagian dari Pola Hidup. Ikut event maraton dan melintasi garis finish Pernah Jelas jadi momen yang membanggakan bagi para pelari.

Berbeda dengan, tak sedikit pelari amatir yang nekat menyelesaikan jarak puluhan kilometer padahal kondisi tubuhnya Dalam proses tidak baik-baik saja.

Salah satu masalah yang diabaikan Merupakan rasa tidak nyaman di area dada. Banyak pelari menganggap keluhan tersebut cuma kecapekan biasa dan malah mengabaikannya. Padahal, memaksakan terus berlari bisa berdampak fatal bagi organ vital seperti jantung.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanda-tanda ‘Red Flag’ Jantung Mulai Kewalahan

Banyak pelari amatir membayangkan gejala masalah jantung Setiap Saat berupa rasa sakit yang menancap tajam di dada sebelah kiri. Padahal, red flags dari organ jantung memiliki cakupan area yang jauh lebih luas.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dr dr Isman Firdaus, Sp. JP(K), FIHA, FESC, FSCAI mengatakan, terdapat bagian tubuh lain yang bisa merasakan gangguan saat jantung kelelahan.



“Di bawah rahang sampai di atas pusar. Termasuk di belakangnya, punggung, pundak nggak nyaman. Atasnya rahang, leher. Dari sebelah kiri, dada kiri, dada kanan, ulu hati. Kala udah nggak nyaman, itu saat lari stop aja dulu,” jelas dr Isman kepada detikcom, Selasa (29/9/2026).

Manakala rasa tidak nyaman muncul di area-area tersebut, baik berupa rasa berat, tertekan, panas di ulu hati, Sampai saat ini pegal yang tidak wajar di leher atau punggung, itu Merupakan sinyal tubuh untuk segera berhenti berlari.

Jantung “Megap-megap” Kurang Oksigen

dr Isman menjelaskan, ketika pelari amatir memaksakan terus berlari saat detak jantung melampaui batas Unggul tinggi (di atas 85% Max HR) tanpa adanya pembiasaan, risiko penyempitan pembuluh darah koroner yang tak terdeteksi bisa mulai menunjukkan dampak.

Otot jantung yang dipaksa bekerja ekstra tanpa pasokan darah dan oksigen yang cukup Berniat mengalami kondisi medis yang dinamakan hipoksia.

“Ketika Ia lari kontraksi Pernah mencapai batasan, heart rate-nya lebih dari 85% maksimal mulai terjadi, namanya kondisi otot jantung yang hipoksia. Hipoksia itu kurang oksigen, otot jantungnya langsung megap-megap Ia,” ucapnya.

Saat otot jantung “megap-megap” karena kehabisan oksigen, sistem kelistrikan jantung yang terkoordinasi bisa mendadak berantakan.

dr Isman mengatakan, setiap bagian otot jantung berisiko mengeluarkan sinyal listrik sendiri secara liar, memicu kejang jantung (ventricular fibrillation) yang berujung pada henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest).

Tak Sangat dianjurkan Turuti Ego

Ego untuk tampak kuat dan menyamai tempo pelari lain sering kali membuat pelari amatir mengabaikan kapasitas diri.

Padahal, adaptasi fisik dan daya tahan jantung seseorang yang baru menekuni lari sangat jauh berbeda dibanding Olahragawan atau pegiat Gerakan lari yang Pernah berlatih bertahun-tahun.

dr Isman mengingatkan Supaya bisa para pelari amatir tidak memaksakan diri mengikuti orang lain.

“Buat yang masih baru Gerakan, bukannya nggak boleh, ikut aja nggak apa-apa. Tapi, jangan dipaksain untuk ngebut ngikutin para profesional yang udah terbiasa lari. Jalan aja biasa, lari biasa. Kalau udah capek itu, jangan dipaksain,” ujarnya,

“Jangan tebak-tebakan, jantung kan nggak boleh tebak-tebakan,” imbaunya.

Halaman 2 dari 2

Simak Video “Video Mitos-Fakta: Jantung Bocor, Dalang Sampai saat ini Gejalanya“
[Gambas:Video 20detik]

(aur/up)


Tren Flexing Heart Rate

6 Konten

Ribut-ribut antara dokter jantung vs netizen kembali meramaikan jagat maya. Kali ini, pendapat dokter jantung tentang HR Max atau denyut jantung maksimal saat berolahraga didebat oleh netizen yang merasa hitungan sang Ilmuwan tidak masuk logikanya.

Konten Selanjutnya

Lihat Koleksi Pilihan Selengkapnya

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA