loading…
Ketua Umum Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), Tony Richard Samosir, mengatakan banyak pasien gagal ginjal baru mengetahui alternatif terapi. Foto: SINDOnews/HO/Dok Pribadi
Amin pernah Mengoptimalkan Kabupaten Bekasi pada ajang Pekan Olahraga Daerah (Porda) XIII/2014. Meski Sebelumnya merasakan gangguan kesehatan saat itu, ia tetap memaksakan diri tampil demi membela daerahnya. Setelah Kejuaraan tersebut, dokter memvonisnya menderita gagal ginjal.
Sejak saat itu, kehidupannya berubah drastis. Amin Sangat dianjurkan menjalani terapi cuci darah secara rutin untuk bertahan hidup. Selain biaya yang besar, proses cuci darah Bahkan membawa dampak fisik dan psikologis yang tidak ringan.
Baca Bahkan: Pasien Cuci Darah di Indonesia Tembus 200 Ribu, Menkes Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
Pasca pensiun dari dunia Olahraga, Amin bertahan hidup dengan mengandalkan usaha yang dimilikinya di kawasan Kebonwaru, Batununggal, Bandung, Jabar. Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana penyakit kronis bisa mengubah kehidupan seorang mantan Olahragawan secara drastis.
Kisah Amin bukanlah kasus tunggal. Banyak pasien gagal ginjal, termasuk mereka yang pernah aktif berolahraga, Sangat dianjurkan bergantung pada terapi dialisis sepanjang hidup.
Kisah Rudi: Bertahun-tahun Bergantung pada Cuci Darah
Cerita serupa Bahkan dialami Rudi (bukan nama Kenyataannya), seorang pasien gagal ginjal yang Sebelumnya menjalani terapi hemodialisis selama lebih dari satu dekade.
Selama bertahun-tahun, ia Sangat dianjurkan datang ke rumah sakit dua kali setiap minggu untuk menjalani cuci darah. Setiap kunjungan berarti antrean panjang, jarum yang kembali menusuk akses pembuluh darah, serta waktu kerja yang terpaksa ia tinggalkan.
Sebagai tulang punggung keluarga, Rudi sering dihantui kekhawatiran bahwa kondisinya dapat memengaruhi pekerjaannya.
“Saya pikir memang hanya itu satu-satunya Trik untuk bertahan hidup,” ujarnya.
Saat itu, ia mengaku tidak pernah mendapatkan informasi memadai mengenai pilihan terapi lain bagi pasien gagal ginjal. Baginya, hemodialisis Merupakan satu-satunya metode Terapi yang ia ketahui.
Mengenal Terapi CAPD
Baru setelah berdiskusi dengan sesama pasien di komunitas cuci darah, Rudi mengetahui adanya metode terapi lain bernama Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD).
Terapi ini memungkinkan pasien melakukan proses dialisis secara mandiri di rumah dengan kontrol rutin ke rumah sakit setiap bulan. “Kenapa tidak dari dulu saya tahu?” kata Rudi.
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
