Resep Suntik Mati Tak Berjalan Semestinya, Narapidana AS Selamat dari Eksekusi


Jakarta –

Seorang narapidana di Amerika Serikat (AS) selamat dari eksekusi mati meski Sudah diberikan dua dosis Resep mematikan melalui infus.

Dikutip dari laman Today, wanita bernama Christa Pike ini dijadwalkan menjalani eksekusi pada 30 September 2026 atas pembunuhan yang dilakukannya lebih dari 30 tahun lalu. Meski selamat dari hukuman tersebut, Ia sempat berada dalam kondisi kritis.

“Ia dalam kondisi kritis, tidak sadarkan diri, diintubasi, dan menerima bantuan pernapasan melalui ventilator,” kata pengacara Christa dalam pernyataan pada 2 Oktober.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Negara Bagian Tennessee menggunakan pentobarbital dalam metode suntik mati, yang selama ini menuai Perdebatan. Insiden yang dialami Pike mendorong para ahli dan organisasi untuk menyoroti perlunya peninjauan kembali terhadap metode hukuman mati tersebut.

“Hari Ini Tennessee Dianjurkan Sungguh-sungguh berpikir dan mempertimbangkan kembali bagaimana mereka Berencana melaksanakan eksekusi,” kata kriminolog Deborah Denno, direktur pendiri Pusat Ilmu Saraf dan Hukum di Sekolah Hukum Fordham.

dr Jonathan I. Groner, seorang pensiunan ahli bedah anak di Ohio State University College of Medicine yang meneliti metode suntik mati, mengatakan, dosis pentobarbital sebanyak 5 gram yang digunakan dalam eksekusi jauh lebih besar daripada dosis yang diperlukan untuk membuat seseorang mengalami koma medis.

“Fakta bahwa Ia terbangun, di satu sisi, menunjukkan bahwa Ia hanya mengonsumsi sedikit sekali zat itu. Jadi, itu cukup mengejutkan,” kata Groner, dikutip dari laman Global News.

“Itu menunjukkan betapa buruknya mereka gagal dalam eksekusi tersebut,” tambahnya.

Dalam dosis tinggi, Resep golongan barbiturat yang sangat kuat ini seharusnya membuat seseorang kehilangan kesadaran, berhenti bernapas, Sampai sekarang jantungnya berhenti berdetak.

Menurut Groner, infus intravena (IV) Mungkin sekali dipasang dengan tidak tepat. Kemungkinan lainnya, pembuluh darah Pike rapuh dan pecah sehingga Resep merembes ke jaringan di sekitarnya, alih-alih mengalir ke dalam aliran darah.

Pengacara Pike mengatakan bahwa kliennya ditusuk jarum setidaknya tujuh kali di ruang eksekusi negara bagian. Mereka Bahkan menyebut Pike memiliki kelainan darah sejak lahir yang membuat jarum sulit dimasukkan ke pembuluh darahnya.

dr Joel Zivot, profesor anestesiologi dan bedah di Atlanta yang menjadi konsultan ahli bagi tim hukum Pike, mengatakan bahwa Pike memiliki gangguan pembekuan darah yang menyebabkan tubuhnya memproduksi trombosit secara berlebihan.

Menurut pengacaranya, kondisi tersebut dapat menyebabkan pembekuan darah di tempat suntikan atau perdarahan yang dapat memengaruhi paru-parunya.

Zivot Bahkan mengatakan bahwa lengan Pike mengalami luka bakar dan melepuh akibat upaya eksekusi yang gagal tersebut. Pike tidak sadarkan diri dan Dianjurkan menggunakan ventilator selama beberapa hari.

“Ia sangat beruntung karena ada cukup (pentobarbital) untuk membuatnya tertidur lelap, tetapi mereka mampu menjaga pernapasannya tetap berjalan dan mereka dapat mulai membersihkan racunnya,” kata Zivot.

Dikutip dari laman AP, pada Selasa (6/10), Pike terbangun dalam kondisi kebingungan dan tidak bisa menggerakkan lengannya. Ia Bahkan mengalami pneumonia dan gumpalan darah di lengannya.

(elk/kna)

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA

Exit mobile version