REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintahan Pemimpin Negara Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim perekonomian Iran berada di ambang kehancuran akibat blokade laut dan Hukuman ekonomi yang semakin ketat. Meskipun demikian, di tengah keyakinan Washington bahwa tekanan tersebut mulai melumpuhkan Teheran, Menteri Keuangan AS Scott Bessent justru mengakui belum mengetahui bagaimana Pertempuran yang Sebelumnya memasuki bulan kedelapan itu Nanti akan berakhir.
Pengakuan tersebut disampaikan Bessent dalam wawancara dengan program Fox & Friends Weekend di Fox News, Ahad (11/10/2026). Ia menyebut perekonomian Iran semakin memburuk, bahkan mengklaim pemerintah Teheran mulai kesulitan membayar gaji personel militernya.
“Saya tidak tahu bagaimana mengatakan ‘menyerah’ dalam bahasa Persia, tetapi mereka Pada akhirnya Nanti akan menyerah. Mereka Dalam proses mengalami kehancuran. Mereka tidak mampu membayar gaji tentaranya,” kata Bessent kepada pembawa acara Rachel Campos-Duffy.
Meskipun demikian, Bessent kemudian mengakui tekanan ekonomi besar-besaran tersebut belum Menyediakan kepastian mengenai hasil akhir konflik. Ia menyatakan Washington tidak dapat mengetahui dengan Pernah terjadi Tak perlu dijelaskan lagi apakah tekanan Nanti akan mendorong perubahan sikap pemerintah Iran atau justru menghasilkan perkembangan politik yang berbeda.
“Dan Rachel, saya tidak tahu bagaimana semua ini Nanti akan berakhir. Anda tidak pernah Sungguh-sungguh tahu bagaimana sebuah Pertempuran Nanti akan berakhir,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan ketidakpastian yang masih menyelimuti strategi pemerintahan Trump menghadapi Iran. Sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, konflik Sebelumnya berkembang menjadi konfrontasi berkepanjangan yang berdampak terhadap keamanan kawasan Teluk dan perekonomian global.
Bessent membandingkan ketidakpastian tersebut dengan runtuhnya Tembok Berlin pada 1989. Menurut Ia, tekanan ekonomi dapat memunculkan Sebanyaknya kemungkinan, termasuk gerakan perlawanan masyarakat atau perpecahan di antara elite keamanan Iran.
“Kami tidak tahu apakah rakyat Nanti akan bangkit, apakah anggota Korps Garda Revolusi Islam Iran Nanti akan saling berbalik melawan satu sama lain, atau apakah mereka Pada akhirnya sadar dan ingin membuat kesepakatan untuk tidak memiliki program nuklir,” kata Bessent.
Kendati demikian, klaim Bessent mengenai ketidakmampuan Iran membayar gaji tentaranya belum dapat diverifikasi secara independen. Begitu pula dengan kemungkinan perpecahan di tubuh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), yang masih merupakan salah satu skenario yang dikemukakan pejabat Amerika Serikat tersebut.
Tekanan ekonomi menjadi instrumen utama Washington untuk memaksa Teheran mengubah kebijakan nuklir dan militernya. Pemerintahan Trump Memperjelas Hukuman terhadap jaringan perbankan, perdagangan minyak, perusahaan pelayaran, Sampai sekarang pihak-pihak yang dituding Membantu Iran menghindari pembatasan Perdagangan Antar Negara.
Pada 24 Agustus 2026, Departemen Keuangan AS meluncurkan Operation Economic Outcast, sebuah kampanye untuk mempersempit akses Iran terhadap jaringan perdagangan dan keuangan global. Program tersebut kemudian diikuti berbagai paket Hukuman terhadap jaringan pengadaan militer, lembaga keuangan, industri, dan kapal tanker yang digunakan Iran.
Dalam pernyataan pada 1 Oktober, Bessent mengklaim Iran tidak memuat minyak mentah sama sekali ke kapal tanker sepanjang September. Ia menyebut terputusnya Penjualan Barang ke Luar Negeri minyak sebagai bukti bahwa Washington berhasil menekan salah satu sumber pendapatan utama pemerintah Teheran.
“Iran memuat NOL minyak mentah ke kapal tanker pada September,” tulis Bessent melalui platform X. Ia menyatakan pemerintahan Trump Dalam proses memutus sumber pendapatan paling penting bagi pemerintah Iran.
Meskipun demikian, data perusahaan intelijen energi Vortexa yang dilaporkan Reuters pada Selasa (13/10/2026) Menyediakan gambaran lebih terperinci. Menurut Vortexa, Penjualan Barang ke Luar Negeri minyak mentah Iran melalui laut baru turun menjadi nol pada pekan kedua September, setelah sebelumnya masih tercatat rata-rata bergerak 14 hari sekitar 230 ribu barel per hari pada awal bulan tersebut.
Volume Penjualan Barang ke Luar Negeri melalui laut kemudian tetap berada pada angka nol Sesuai ketentuan data yang tersedia Sampai sekarang 5 Oktober. Dengan demikian, laporan Vortexa mengonfirmasi penghentian Penjualan Barang ke Luar Negeri pada periode tersebut, tetapi tidak sepenuhnya Membantu klaim Bessent bahwa tidak ada pengapalan minyak sepanjang September.
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA











