Iran Soroti Pembatasan Hijab di Azerbaijan, Puluhan Demonstran Ditahan


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pemerintah Iran meminta Azerbaijan memperhatikan aspirasi masyarakat yang memprotes pembatasan penggunaan hijab di sekolah-sekolah negeri. Seruan tersebut disampaikan ketika kebijakan seragam sekolah di Azerbaijan memicu gelombang Unjuk Rasa, penahanan puluhan orang, serta kritik organisasi HAM atas pembatasan akses pendidikan bagi siswi Muslim.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan persoalan tersebut seharusnya dapat diselesaikan dengan mempertimbangkan kepentingan masyarakat, penghormatan terhadap hak-hak dasar warga negara, serta hubungan baik antara kedua negara.

“Kami berharap negara yang memiliki hubungan baik dengan kami dapat menyelesaikan persoalan ini dalam suasana saling pengertian, dengan mempertimbangkan nilai-nilai bersama dan penghormatan terhadap hak-hak dasar warga negara,” kata Baqaei dalam konferensi pers, Selasa (20/10/2026).

Baqaei menegaskan Iran dan Azerbaijan memiliki ikatan sejarah, Kearifan Lokal, serta hubungan antarmasyarakat yang erat. Ia berharap perbedaan pandangan mengenai penggunaan hijab tidak berkembang menjadi persoalan yang mengganggu hubungan kedua negara.

Menurut Baqaei, hijab memiliki makna keagamaan bagi masyarakat Muslim yang menjalankannya. Justru, ia Bahkan menyatakan keyakinannya bahwa masyarakat Azerbaijan mampu mencari penyelesaian sesuai dengan kepentingan dan kondisi negaranya.

Pernyataan Teheran muncul setelah pemerintah Azerbaijan memperketat aturan berpakaian bagi siswa dan tenaga pendidik di sekolah negeri. Kebijakan tersebut menuai keberatan dari sebagian orang tua dan siswa karena pelaksanaannya mengakibatkan Sebanyaknya siswi berhijab tidak diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar.

Aturan Sekuler Picu Perdebatan Hijab

Perdebatan bermula setelah Kabinet Menteri Azerbaijan menerbitkan Keputusan Nomor 309 pada 21 September 2026 yang mengubah Syarat seragam siswa sekolah negeri.

Peraturan tersebut melarang penggunaan tambahan pakaian yang merusak keseragaman busana sekolah atau tidak sesuai dengan prinsip pendidikan sekuler.

Justru, teks peraturan itu tidak secara eksplisit menyebut hijab ataupun kerudung sebagai jenis pakaian yang dilarang.

Pada 6 Oktober, pemerintah Azerbaijan Bahkan mengesahkan Syarat berpakaian bagi tenaga pendidik di sekolah negeri melalui keputusan terpisah.

Dalam pelaksanaannya, Sebanyaknya sekolah meminta siswi yang mengenakan hijab untuk melepas kerudung sebelum mengikuti pelajaran. Sebagian orang tua melaporkan anak-anak mereka tidak diizinkan masuk kelas Seandainya tetap mengenakan hijab.

Radio Free Europe/Radio Liberty (RFE/RL) pada 14 Oktober melaporkan keluhan serupa muncul di Baku dan beberapa daerah lainnya.

Seorang orang tua di Baku, Gulmira Aslanova, mengatakan pihak sekolah meminta putrinya datang tanpa mengenakan kerudung. Ia mempertanyakan kebijakan tersebut karena pendidikan menengah merupakan kewajiban yang dijamin negara.

Menurut Aslanova, hak memperoleh pendidikan tidak seharusnya hilang hanya karena seorang siswi mengenakan pakaian yang menjadi bagian dari keyakinan agamanya.

Persoalan itu kemudian memicu aksi Penolakan siswa dan orang tua. Di Sebanyaknya sekolah, siswa melakukan aksi solidaritas dengan tidak mengikuti pelajaran untuk Membantu teman-teman mereka yang mengenakan hijab.

Pemerintah Azerbaijan Pertahankan Kebijakan

Pemerintah Azerbaijan mempertahankan aturan seragam sekolah dengan alasan menjaga kesetaraan serta karakter sekuler sistem pendidikan nasional.

Anggota parlemen Azerbaijan, Jeyhun Mammadov, menyatakan kebijakan tersebut tidak dimaksudkan sebagai tindakan terhadap Islam maupun praktik keagamaan masyarakat.

Menurut Mammadov, Azerbaijan tetap Menyajikan kebebasan kepada warganya untuk menjalankan keyakinan agama, termasuk mengenakan hijab dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menjelaskan Syarat yang dipersoalkan secara khusus mengatur pakaian siswa dan guru di sekolah negeri.

Mammadov mengatakan sekolah merupakan ruang pendidikan yang memiliki aturan seragam untuk seluruh peserta didik. Syarat tersebut, menurutnya, dimaksudkan untuk mengurangi perbedaan Sesuai ketentuan latar belakang agama, kondisi ekonomi, dan faktor sosial lainnya.

“Penerapan aturan seragam di sekolah bertujuan menjamin kesetaraan, menghilangkan diskriminasi, serta membentuk rasa memiliki terhadap sekolah,” kata Mammadov sebagaimana dilaporkan kantor berita Azerbaijan, APA, pada 13 Oktober.

Ia Bahkan menolak anggapan bahwa peraturan tersebut merupakan bentuk permusuhan pemerintah terhadap Islam.

Justru, argumen pemerintah mengenai kesetaraan di sekolah mendapat penolakan dari sebagian masyarakat dan organisasi HAM.

Perdebatan kemudian berkembang menjadi persoalan yang lebih luas mengenai hubungan antara prinsip sekularisme negara, kebebasan beragama, dan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan.

 


Loading…


sumber : Antara

Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA