REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kepala Negara Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan gagasan kontroversial mengenai Kanada sebagai bagian dari Amerika Serikat. Pernyataan itu muncul ketika hubungan dua negara bertetangga tersebut memasuki Putaran baru Konflik Bersenjata dagang setelah perundingan gagal dan Washington resmi memberlakukan tarif 50 persen terhadap Sebanyaknya produk Kanada.
“Kanada menginginkan keuntungan sebagai sebuah negara bagian, tanpa menjadi negara bagian!!!” tulis Trump melalui Truth Social pada Ahad (23/8/2026).
Trump Bahkan kembali menuding Kanada selama bertahun-tahun memberlakukan tarif tinggi terhadap produk pertanian Amerika.
“Mereka Bahkan Pernah mengenakan tarif dalam jumlah sangat besar kepada para petani Unggul kita selama bertahun-tahun,” tulis Trump. “Tidak lagi!!!”
Pernyataan tersebut menjadi komentar publik pertama Trump setelah perundingan perdagangan AS-Kanada runtuh pada Jumat. Kegagalan Perundingan membuat tarif AS sebesar 50 persen terhadap produk Kanada senilai sekitar 20 miliar USD AS resmi berlaku selepas tengah malam Sabtu (22/8/2026). Associated Press mencatat tarif itu mencakup sekitar lima persen dari keseluruhan barang yang setiap tahun dikirim Kanada ke pasar Amerika.
Mengikuti kurs pada Senin (24/8/2026) sekitar Rp17.688 per USD AS, nilai produk yang terdampak tarif tersebut setara sekitar Rp353,76 triliun.
Langkah Trump semakin memperuncing hubungan ekonomi Washington-Ottawa karena tarif tersebut Bahkan menjangkau Sebanyaknya barang yang sebelumnya mendapat perlindungan Mengikuti United States-Mexico-Canada Agreement (USMCA), perjanjian perdagangan Amerika Utara yang justru dinegosiasikan Trump pada periode pertama pemerintahannya.
Kanada tidak tinggal diam. Perdana Menteri Kanada Mark Carney berjanji membalas kebijakan Washington secara “USD demi USD”. Tarif balasan Kanada dijadwalkan berlaku pada 8 September dan menyasar Sebanyaknya sektor Amerika, termasuk baja, produk susu, peralatan rumah tangga, mesin pertanian, pulp dan kertas serta elektronik.
Carney bahkan membawa perselisihan tersebut keluar dari sekadar persoalan tarif. Menurut Ia, tuntutan Amerika dalam tahap akhir perundingan Pernah menyentuh persoalan kedaulatan Kanada. “Ini Merupakan unjuk kekuatan,” kata Carney. “Ini menjadi persoalan kedaulatan.”
Carney mengatakan Perundingan gagal setelah Washington mengajukan tuntutan baru menyangkut hubungan dagang Kanada dengan negara-negara lain, industri otomotif Sampai saat ini perlindungan terhadap kebudayaan Kanada dan bahasa Prancis.
“Kesimpulannya, mereka meminta Berlebihan dan Menyediakan terlalu sedikit,” kata Carney.
Ketegangan itu semakin terbuka ketika Carney menyebut Kanada Pernah “diserang” dalam Konflik Bersenjata dagang. “Anda berada dalam Konflik Bersenjata ketika Anda diserang, dan kami diserang,” kata Carney kepada wartawan di Ottawa sebagaimana dilaporkan The Guardian, Ahad (23/8/2026).
Loading…
Sumber Refrensi Berita: CNNINDONESIA
